Pengacara Gerry Ungkap Kronologi, Pengacara OCK: Itu Masuk Pokok Perkara!

Advokat senior, Otto Cornelis Kaligis kini telah resmi menjadi tahanan KPK bersama anak buahnya, M Yagari Bhastara alias Gerry. Keduanya diduga melakukan tindak pidana suap terhadap beberapa hakim dan seorang panitera PTUN Medan.
Kasus ini diduga terkait pemeriksaan perkara gugatan atas terbitnya surat perintah penyelidikan perkara dugaan penyalahgunaan dana bantuan sosial Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tahun 2012-2014 yang ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.
Kantor hukum OC Kaligis menjadi kuasa hukum pihak penggugat, mantan Kepala Biro Keuangan Pemerintah Provinsi Sumut Ahmad Fuad Lubis.
Paman Gerry yang sekaligus menjadi pengacaranya, Haeruddin Masaro membeberkan kronologi penyerahan uang yang nilainya puluhan ribu dollar itu. Berikut ini rincian kronologinya sebagaimana dipaparkan Haeruddin kepada media di Gedung KPK, Jumat lalu (24/7):
  • Kamis, 2 Juli 2015, Gerry bersama OC Kaligis berada di Medan untuk menemui anggota majelis hakim PTUN Medan, Dermawan Ginting. Saat itu Dermawan mengatakan bahwa putusan akan dibacakan pada 7 Juli 2015.
  • Saat Gerry akan pulang ke Jakarta, Dermawan menelepon Gerry dan meminta untuk kembali ke kantor PTUN Medan. Saat itu, Dermawan menanyakan keberadaan OC Kaligis dan meminta agar Kaligis datang ke kantor PTUN Medan, namun Kaligis sudah terbang ke Jakarta.
  • Sabtu, 4 Juli 2015, Gerry datang ke kantornya untuk berangkat sama OC Kaligis dengan Indah ke Medan, dimana hakim mau ketemu langsung di kantor PTUN Medan. Gerry sempat meminta kepada Yenny Octarina Misnan (staf OC Kaligis) agar dirinya tidak berangkat ke Medan untuk urusan yang bukan terkait pengurusan perkara. Namun, Yenny tetap menyuruh Gerry berangkat bersama OC Kaligis dan sekretarisnya yang bernama Indah alias Yurinda Tri Achyuni.
  • Minggu, 5 Juli 2015, Gerry bersama OC Kaligis berangkat menuju Medan. Kaligis sempat meminta Gerry untuk menelepon Indah dan memastikan Indah membawa dua buku karena bila berangkat tanpa buku akan percuma. Di dalam buku tersebut ternyata ada amplop berisi uang, namun tidak diketahui berapa isinya dan menggunakan mata uang apa. Dari Jakarta sampai Medan, buku itu terus dipegang oleh Indah.
  • Sesampainya di Medan pada pukul 09.00, mereka bertiga dijemput dengan mobil dan berangkat ke kantor PTUN Medan. Gerry awalnya tidak mau turun dari mobil, tapi dia tak bisa melawan perintah OC Kaligis sehingga dia pun turun dan menemui Dermawan Ginting hingga memberikan buku tersebut. Saat mendapatkan buku, Dermawan mengatakan, tidak usah mempertemukan dirinya dengan OC Kaligis.
  • Siangnya, Gerry, OC Kaligis dan Indah beristirahat di Hotel Santika, Medan. OC Kaligis lantas memberinya dua amplop, satu untuk panitera dan satu dipegang Gerry sampai ada perintah selanjutnya.
  • Selasa, 7 Juli 2015, saat putusan dibacakan, Gerry memberikan amplop ke panitera/sekretaris PTUN Medan, Syamsir Yusfan dan melaporkannya ke OC Kaligis. Di laporan itu juga Gerry memberitahukan bahwa majelis hakim yang terdiri atas Tripeni Irianto Putro, Amir Fauzi dan Dermawan Ginting telah mengabulkan sebagian gugatan pihaknya.
  • Rabu, 8 Juli 2015, Syamsir menelepon Gerry dan menyampaikan bahwa para hakim mau mudik, namun Gerry mengatakan bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri sehingga harus melapor ke OC Kaligis. Setelah mendapat laporan, OC Kaligis langsung memerintahkan Gerry berangkat ke Medan untuk memberikan satu amplop yang sudah diberikan Kaligis sebelumnya.
  • Kamis, 9 Juli 2015 saat Gerry memberikan amplop di ruangan Ketua PTUN Medan Tripeni Irianto Putro, tim KPK menangkap keduanya bersama barang bukti 5 ribu dolar AS. Tripeni lantas mengakui bahwa OC Kaligis sudah memberikan uang sebelum sidang dibuka, yaitu sebesar 10 ribu dolar AS dan 5 ribu dolar Singapura dari OC Kaligis.
  • Selanjutnya, KPK juga menangkap anggota hakim Amir Fauzi dan Dermawan Ginting serta panitera/Sekretaris PTUN Medan Syamsir Yusfan pada hari yang sama dan memeriksa mereka di Polres Kota Medan baru kemudian dibawa ke Jakarta pada hari yang sama.
Dimintai tanggapannya, salah seorang pengacara OC Kaligis, Afrian Bondjol menyebut apa yang dipaparkan pengacara Gerry itu sudah masuk pokok perkara. Afrian meminta pihak Gerry tidak membuat pernyataan yang terkait dengan pokok perkara, karena hal itu seharusnya dibuktikan di pengadilan.
“Terkait hubungan Pak Kaligis dengan Gatot, Pak Kaligis dengan Gerry, dan lain-lain, itu sudah masuk materi pokok perkara yang harus dibuktikan di pengadilan. Makanya, kami meminta KPK segera melimpahkan perkara ini ke pengadilan. Mari kita buktikan sama-sama di pengadilan,” papar Afrian, melalui telepon, Minggu (26/7).
Sumber : hukumonline.com
Advertisements

Itulah, THR ala Mafia Peradilan #bongkarkasusOCK

JAKARTA – Komisi Yudisial (KY) mengecam ulah Ketua PTUN Medan, Tripeni Irianto, dua hakim PTUN Medan Amir Fauzi dan Gumala Ginting, yang diduga menerima suap dari seorang pengacara anak buah OC Kaligis.
Ketiganya bersama panitera Yusril Sofian dan si pengacara dimaksud, ditangkap petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kantor PTUN Medan, kemarin (9/7).
Wakil Ketua KY Imam Anshory Saleh menilai, ulah Ketua PN Medan dan dua hakim anak buahnya itu sangat memalukan. Karena aksi suap menyuap dilakukan jelang lebaran, dengan dalih uang Tunjangan Hari Raya (THR).
“Itu sangat memalukan. Apalagi sampai kantor PTUN digropyok (digerebek petugas KPK, red). Gaji hakim sudah besar, juga terima gaji ke-13, kok masih nyari THR,” ujar Imam Anshory kepada JPNN, di Jakarta, kemarin.
Lebih lanjut Imam menilai, kasus di Medan ini merupakan gambaran begitu masih kuatnya mafia peradilan di negeri ini. “Ya itulah yang namanya mafia peradilan, melibatkan hakim, pengacara, panitera,” kata Anshory.
Dalam kasus seperti ini, lanjutnya, KY tidak bisa berbuat apa-apa, karena sudah masuk ranah pidana. Sedang KY hanya punya kewenangan pada aspek etik para hakim.
“Kami hanya mengingatkan kepada para hakim yang lain, kasus di Medan ini harus menjadi pelajaran. Jangan coba-coba menjadi bagian dari mafia peradilan,” pungkas Imam. (sam/jpnn)

Terungkap, Ternyata OCK Miliki 10 Istri dan 20 Anak, Ini Penjelasannya #bongkarkasusOCK

Pengacara senior Otto Cornelis Kaligis ternyata memiliki cerita pribadi yang akan diris dalam sebuah buku hasil karyanya sendiri.

Dalam buku tersebut, OC Kaligis akan bercerita tentang sepuluh istri dan 20 anak-anaknya. Buku itu masih belum diberi judul, tapi sudah final.

Walau sudah ditahan KPK akibat kasus suap terhadap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, Kaligis tetap optimis merampungkan buku tersebut.

” Iya itu bukunya nanti saya selesaikan, tapi draftnya ada di kantor. Kantor saya masih tutup sekarang,” kata OC Kaligis di KPK, Jakarta, Rabu (15/7/2015).

Buku itu digadang-gadang akan mengungkap semua kisah kehidupannya, termasuk hal yang sangat pribadi.

Di dalamnya pengacara yang pernah membela Presiden Soeharto di era Orde Baru itu akan menuliskan siapa saja sepuluh wanita yang menjadi istri dan ibu dari 20 orang anaknya.

Di luar mereka, masih ada wanita yang masuk kategori pacar. Kaligis pun menegaskan buku itu harus selesai.

” Nanti saya selesaikan, harus diselesaikan buku itu,” tukas Kaligis.

Konon, Kaligis siap membuka rahasia pribadinya itu karena ia berhasil mengharmoniskan hubungan di antara mereka. Semua istri saling kenal, begitu juga semua anak-anaknya.

Bahkan, di antara istrinya terdapat dua kakak beradik. Anak tertuanya berusia 42 tahun dan yang paling kecil berumur empat tahun. Salah satu anaknya yang terkenal adalah Velove Vexia.

Sumber: Tribunnews.com

Gerry Sempat Disuruh OC Kaligis “Pasang Badan” #bongkarkasusOCK

Tersangka kasus suap hakim di Pengadilan Tata Usaha Negeri (PTUN) Medan, OC Kaligis, memasuki Gedung KPK untuk diperiksa, di Jakarta, Rabu (15/7/2015). KPK resmi menahan OC Kaligis semalam karena diduga terlibat kasus suap hakim PTUN Medan guna memuluskan kasus yang tengah ditangani.

Kuasa hukum M Yagari Bhastara, Haeruddin Masarro, mengatakan, kliennya mengaku ditekan oleh pengacara Otto Cornelis (OC) Kaligis setelah ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Kaligis, kata Masarro, meminta Gerry “pasang badan” demi kelangsungan kantor firma hukum OC Kaligis and Associates.
Menurut Gerry, kata Haeruddin, peristiwa tersebut terjadi saat hari raya Idul Fitri, Jumat (17/7/2015).
“Gerry shalat Jumat di Guntur. Keluar Jumatan, dia dipanggil sama OCK. ‘Sini dululah Gerry, sekarang kantor tutup, ratusan orang yang tidak bisa mengais nafkah di situ. Coba kalau kau pasang badan. Saya biayai kamu semua’,” ujar Haeruddin menirukan ucapan Kaligis, saat mendatangi Gedung KPK, Jumat (24/7/2015).
Haeruddin mengatakan, Gerry saat itu diam saja. Namun, saat menceritakan peristiwa tersebut kepada Haeruddin, Gerry menolaknya. Menurut Haeruddin, Gerry merasa bahwa mustahil untuk pasang badan karena KPK memegang semua bukti sadapan.
“Gerry bilang, ‘Gimana saya pasang badan. Kan rekaman sudah ada. Kan tidak bisa’,” kata Gerry melalui Haeruddin.
Haeruddin mengatakan, percuma jika Gerry menutupi peran Kaligis karena penyidik telah memegang alat bukti. Menurut dia, pembelaan yang diberikan Gerry pun tak akan dipercaya jika berseberangan dengan alat bukti tersebut.
“Gerry pun bilang, apa orang tidak akan percaya. Masa Gerry mau kasih duit ke situ? Apa urusannya Gerry?” kata Haeruddin.
Kasus ini bermula dari perkara korupsi dana bantuan sosial yang mengaitkan sejumlah pejabat di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Kasus korupsi yang kini ditangani Kejaksaan Agung itu digugat oleh Pemprov Sumatera Utara.
Sebelum dilimpahkan ke Kejaksaan Agung, kasus ini mengendap di Kejaksaan Tinggi Medan. Dalam proses gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan itulah, KPK kemudian membongkar dugaan praktik penyuapan yang dilakukan oleh Gerry kepada tiga hakim dan satu panitera.
Gerry atau M Yagari Bhastara merupakan kuasa hukum dari kantor firma hukum OC Kaligis and Associates yang membela Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terkait perkara di PTUN Medan. Adapun ketiga hakim PTUN Medan itu adalah Tripeni Irinto Putro, Amir Fauzi, dan Dermawan Ginting. Sementara itu, satu panitera yang dimaksud bernama Syamsir Yusfan.

sumber: http://nasional.kompas.com/read/2015/07/24/20230081/Gerry.Sempat.Disuruh.OC.Kaligis.Pasang.Badan.

10 Tahun, 10 Pengacara Terlibat Kasus Korupsi #bongkarkasusOCK

Pengacara senior OC Kaligis diduga terlibat kasus suap hakim PTUN Medan. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) oleh :
Aries Setiawan, Bayu Nugraha

Dalam rentan waktu 10 tahun terakhir, tercatat 10 advokat terjerat kasus tindak pidana korupsi.

Hal ini diungkapkan Ketua ILUNI-FHUI Melli Darsa dalam keterangan tertulisnya, Rabu 22 Juli 2015. Melli mengatakan, data tersebut ia dapatkan berdasarkan dokumen Indonesia Corruption Watch (ICW).

“Total ada sepuluh advokat yang terjerat Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, terakhir Advokat senior OC Kaligis,” ujar Melli.

Berikut sepuluh advokat yang terjerat UU Tindak Pidana Korupsi:

1. Tengku Syaifuddin Popon (2005)

Menyuap pegawai Pengadilan Tinggi Tipikor sebesar Rp250 juta terkait dengan kasus yang sedang ditanganinya (saat itu sedang menangani kasus korupsi yang melibatkan Abdullah Puteh).

Divonis Pengadilan Tinggi Tipikor 2 tahun 8 bulan .

2. Harini Wijoso (2005)

Menyuap pegawai Mahkamah Agung dan Hakim Agung terkait dengan kasus yang melibatkan Probosutejo.

Divonis MA tiga tahun penjara dan denda Rp100 juta.

3. Manatap Ambarita (2008)

Menghalang-halangi proses pemeriksaan yang dilakukan oleh Kejaksaan terhadap tersangka korupsi penyalahgunaan sisa anggaran Tahun 2005 pada Dinas Kimpraswil Kabupaten Kepulauan Mentawai, Afner Ambarita.

Tahun 2008, Pengadilan Negeri Padang menjatuhkan vonis 1,5 tahun penjara dan diperkuat Pengadilan Banding Sumbar. Pada tahun 2010, MA menjatuhkan vonis 3 tahun penjara.

Tahun 2012, masuk dalam Daftar Pencarian Orang dan dinyatakan buron oleh Kejaksaan Negeri Mentawai. Perkembangan proses selanjutnya tidak jelas.

4. Lambertus Palang Ama (2010)

Dugaan terlibat dalam kasus Gayus Halomoan Tambunan.

Divonis PN Jakarta Selatan 3 tahun penjara ditambah denda Rp150 juta. Lambertus terbukti membantu merekayasa asal-usul uang Rp28 miliar milik Gayus. Uang itu diblokir penyidik Bareskrim Polri lantaran diduga hasil tindak pidana saat bekerja di Direktorat Jenderal Pajak.

5. Adner Sirait (2010)

Menyuap Ibrahim, Hakim Pengadilan Tinggi TUN Jakarta terkait perkara sengketa tanah seluas 9,9 hektar di Cengkareng, Jakarta Barat, melawan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Divonis Pengadilan Tipikor 4 tahun 6 bulan dan denda Rp150 juta.

6. Haposan Hutagalung (2011)

Dugaan keterlibatan dalam mafia kasus Gayus Halomoan Tambunan dan suap kepada pejabat di Bareskrim Polri.

Divonis MA 12 tahun penjara ditambah denda Rp500 juta.

7. Mario C Bernardo (2013)

Suap/Pemberian uang diduga berkaitan dengan kasus yang tengah berada di tingkat kasasi.

Ditangkap KPK setelah sebelumnya menyerahkan uang kepada pegawai MA Djody Supratman.

Divonis Pengadilan Tipikor Jakarta dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp200 juta.

8. Susi Tur Andayani (2014)

Susi diduga menjadi perantara suap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) M Akil Mochtar dalam sejumlah sengketa Pilkada.

Divonis lima tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Namun Melalui putusan kasasi benomor 2262/K/Pid.Sus/2015 tertanggal 23 Februari, Susi divonis 7 tahun penjara.

9. M. Yagari Bhastara Guntur alias Gerry (2015)

Dugaan suap kepada Hakim dan Panitera PTUN Medan. Tertangkap tangan oleh KPK, ditetapkan sebagai tersangka dan masih dalam proses penyidikan dan ditahan

10. OC Kaligis  (2015)

Dugaan suap kepada Hakim dan Panitera PTUN Medan. Ditetapkan sebagai tersangka dan masih dalam proses penyidikan dan ditahan.

Sumber : Viva.co.id

Pengacara Gatot: OCK Kerap Minta Uang ke Istri Gubernur Sumut #bongkarkasusOCK

Ekspresi OC Kaligis usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (14/7/2015). OC Kaligis ditahan karena diduga terlibat dalam kasus dugaan suap kepada hakim dan panitera PTUN Medan. (Liputan6.com/Helmi Afandi)

Tersangka kasus dugaan suap 3 hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan Otto Cornelius Kaligis (OCK) disebut kerap meminta uang kepada Evy Susanti yang merupakan istri Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho. Pengacara Gatot, Razman Arief Nasution mengatakan, uang ribuan dollar Amerika Serikat diberikan sebagai operasional Kaligis dan anak buahnya ketika datang ke Medan, sebagai pengacara keluarga.

“Asal berangkat ke Medan, (OC Kaligis) minta uang. Pernah 5 ribu, 10 ribu, dan 3 ribu dollar Amerika Serikat,” ujar Razman Arief Nasution di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (22/7/2015).

Dia juga menjelaskan, kliennya yang merupakan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut mengenal OC Kaligis dari Evy yang sudah lebih dahulu berteman dengan pengacara senior itu.

“Evy, posisi beliau sudah kenal OC Kaligis sejak beberapa tahun lalu, sebelum ketemu Pak Gatot. Yang kemudian Bu Evy ini membantu misalnya Pak OC akan berangkat ke Medan untuk katakan mengikuti TUN,” kata Razman.

Pada perkara ini, selain OC Kaligis dan Gatot Pujo, Evy Susanti sudah dicekal oleh KPK bepergian ke luar negeri. Evy diduga mengetahui upaya penyuapan yang dilakukan oleh kantor OC Kaligis terhadap hakim PTUN Medan guna mengurus perkara korupsi di lingkungan kerja Pemprov Sumut.

Suap hakim ini terkuak setelah KPK menggelar operasi tangkap tangan di kantor PTUN Medan pada 9 Juli 2015 lalu. Ketika itu, tim Satgas KPK berhasil meringkus anak buah OC Kaligis yang bernama Gerry dan Ketua PTUN Medan Tripeni Irianto Putro, serta dua hakim lainnya. (Bob/Mut)

Testimoni Hakim Agung Suhadi yang ‘Digoda’ OC Kaligis #bongkarkasusOCK

Jakarta – Pengacara gaek OC Kaligis kini mendekam di Rutan Guntur terkait kasus penyuapan Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan Tripeni Irianto dkk. Ternyata, hakim agung Suhadi punya pengalaman ‘digoda’ oleh OC Kaligis.

Dalam catatan detikcom, Selasa (21/7/2015), Suhadi menceritakan hal itu saat ia mengikuti seleksi hakim agung empat tahun silam. Saat itu ia mengikuti wawancara terbuka di Komisi Yudisial (KY).

“Saat itu, OC Kaligis masuk ke ruangan saya,” cerita Suhadi di depan panelis seleksi. Saat itu Suhadi merupakan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Tangerang.

Setelah berbincang- bincang sejenak, OC Kaligis langsung berbicara pokok perkara. Setelah itu dia menyodorkan sejumlah uang yang dibungkus dalam amplop.

“Lalu saya bilang, Pak OC, apa-apaan ini. Saya tidak menerima beginian. Apa bapak tidak lihat, seluruh ruangan ini dan pengadilan ini ada CCTV nya?” kisah Suhadi yang saat mengikuti seleksi hakim agung adalah Panitera MA.

Mendapat nada tinggi ini, OC Kaligis langsung ngeloyor pergi. Suhadi mengklarifikasi hal tersebut karena ada laporan dari masyarakat jika dia mengusir OC Kaligis.

“Saya tidak mengusir. Tapi ceritanya seperti itu,” aku Suhadi.

Pengakuan Suhadi tersebut telah dibantah berkali-kali oleh OC Kaligis. Ia menyangkal semua cerita Suhadi.

Suhadi lalu terpilih menjadi hakim agung dan memakai jubah emas. Saat Suhadi menggelar pernikahan anaknya di TMII Jakarta Timur pada 2014 lalu, tidak ada satu pun pengacara yang diundangnya.
(asp/bar)

sumber : detik.com